Sabtu, 18 Februari 2012

Hadits Tentang Shalat

Amar bin Yasir r.a meriwayatkan, beliau mendengar Rasulullah saw bersabda, “Apabila seseorang selesai mengerjakan shalat dia mendapat sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, seperdua pahala shalatnya. (Hr. Abu Daud, at Targhib)
Hadits ini menjelaskan, pahala seseorang dalam shalat berbanding lurus dengan keikhlasan dan ke khusyuan shalat yang dikerjakannya, sehingga sebagian mendapat sepersepuluh dari pahala sepenuhnya, dan sebagian lagi mendapat lebih dari sepersepuluh sampai setengah dari pahala sepenuhnya. Memang benar ada sebagian yang menerima pahala sepenuhnya dan ada yang tidak mendapat pahala sama sekali. Allah swt mempunyai sebuah takaran untuk mengukur kualitas shalat fardhu.
Dalam hadits ini disebutkan, kekhusyuan shalat adalah yang pertama kali diangkat dari dunia ini. Satu masa akan tiba dimana tidak seorangpun dalam suatu jamaah akan mengerjakan shalat dengan khusyu.
Hadits ke-2.
Anas r.a berkata, Rasulullah saw bersabda, “Apabila seorang mengerjakan shalat pada waktu-waktu yang telah ditetapkan dengan wudhu yang sempurna, dengan perasaan rendah hati dan tawadhu, dan dengan qiyam, ruku, dan sujud dilakukan dengan baik, maka shalat yang demikian itu akan berupa cahaya yang indah yang akan mendoakan orang itu dengan kata-kata. “Semoga Allah memelihara engkau seperti engkau telah memelihara saya” Sebaliknya, apabila seseorang tidak menjaga shalatnya dan tidak mengambil wudhu dengan sempurna dan qiyam, ruku serta sujudnya juga tidak dilakukan dengan tertib, maka shalatnya akan membuat wajahnya gelap dan buruk serta ia akan mengutuk orang itu dengan kata-kata: “ Semoga Allah swt membinasakanmu sebagaimana kamu telah membinasakanku.” Lalu shalatnya itu dilemparkan ke muka orang itu seperti kain yang buruk.(Hr.Thabrani)
Beruntunglah shalatnya yang sudah sempurna sehingga shalatnya sebagai ibadah yang penting di sisi Allah swt dapat mendoakannya. Tetapi bagaimana dengan orang yang tidak mau menunaikan shalat atau menunaikannya dengan sempurna? Mereka bersujud dan ruku dengan cepat seperti burung gagak yang mematuk biji-bijian. Kerugian yang diterima oleh orang yang demikian disebutkan dalam hadits ini. Apabila shalat sudah mengutuk, apa lagi yang dapat kita lakukan untuk menghindari dari lembah kemakmuran? Itulah sebabnya keadaan islam kini sedang menurun dari hari ke hari diseluruh dunia. Dan kehancuran datang dari setiap penjuru.
Gambaran serupa diberikan dalam sebuah hadits lain, shalat yang dikerjakan oleh seseorang dengan ikhlas dan khusyu maka orang itu akan berupa seseorang yang berwajah cemerlang, pintu surga terbuka untuk menyambut dan kemudian dia menjadi pembela orang yang mengerjakan shalat itu (dihadapan Allah swt) Rasulullah saw bersabda , “Orang yang rukunya tidak sempurna (yang punggungnya tidak lurus) bagaikan seorang wanita hamil yang kandungannya gugur sebelum lahir.” Dalam sebuah hadits dinyatakan, sebagian orang berpuasa tetapi tidak memperoleh apapun dari puasanya kecuali hanya lapar dan dahaga dan orang yang beribadah pada malam hari tetapi tidak memperoleh apapun dari ibadahnya kecuali hanya rasa kantuk belaka.
Aisyah r.a meriwayatkan, beliau mendengar Rasulullah saw bersabda, 'Allah swt telah memutuskan akan menyelamatkan ( dari azab neraka) orang yang datang menghadap-Nya dengan mengerjakan shalat lima kali dalam sehari pada waktu-waktu yang telah ditetapkan, dengan ikhlas, khusyu, dan dengan wudhu yang sempurna. Dan orang yang tidak datang menghadap-Nya, tidak ada baginya jaminan tersebut. Mungkin akan diampuni oleh Allah swt dengan limpahan kasih sayang-Nya atau Allah akan mengazabnya.”
Hadits ke-3
Abu Hurairah r.a menceritakan, “Kami mendengar Rasulullah saw bersabda, “Sesengguhnya amal yang pertama kali akan dihisab dari seorang hamba adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, maka sungguh orang itu akan bahagia dan berhasil, tetapi bila shalatnya rusak, maka ia akan menyesal dan merugi. Jika sekiranya ada kekurangan dalam shalat fardhunya, Allah swt akan berfirman kepada malaikat, 'Carilah dalam catatan, mungkin hamba-Ku suka mengerjakan shalat sunat, maka kekurangan dalam shalat fardhunya akan disempurnakan dengan shalat sunatnya. Kemudian seluruh amal yang lainnya akan dihisab seperti itu juga (Hr. Tirmidzi)
Hadits ini menunjukan kepada kita supaya selalu mengerjakan shalat-shalat sunat untuk menutupi kekurangan dalam shalat fardhu. Tetapi sayang, tabiat manusia biasanya hanya menunaikan shalat fardhu saja. Shalat nafil adalah untuk alim ulama saja. Memang cukup memadai dengan shalat fardhu yang sempurna, tetapi untuk menyempurnakannya bukanlah hal yang mudah, setiap rukun-rukunnya harus benar-benar disempurnakan. Kemungkinan besar masih terdapat kekurangan di sana sini dan tidak ada jalan lain yang dapat mengganti kekurangan itu kecuali melalui shalat sunat.
Ada satu hadits yang berhubungan dengan makna yang lebih luas yang berbunyi : Shalat fardhu adalah satu kewajiban yang paling utama yang diperintahkan oleh Allah swt dan pertama kali dihadapkan ke hadirat Allah swt dan yang pertama kali akan dihisab pada hari Hisab. Apabila shalat fardhu dikerjakan tidak sempurna maka kekurangan itu akan dipenuhi dengan shalat nafil. Demikian pula dengan puasa Ramadhan yang di hisab kemudian, jika terjadi kekurangan akan dipenuhi dengan puasa nafil. Demikian juga dengan zakat yang akan di hisab setelah itu, maka amalan-amalan nafil akan menyempurnakannya dan memperberat timbangan.
Telah menjadi amalan Rasulullah saw apabila ada seseorang yang baru memeluk islam, maka yang pertama diajarkan kepadanya adalah shalat.
Hadits ke- 4
Abdullah bin Qurath r.a berkata, Rasulullah saw bersabda, “Yang pertama kali akan dihisab pada seorang hamba pada hari Kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik, maka baiklah seluruh amalannya. Dan jika shalatnya buruk, maka buruklah amalan-amalan yang lain.” (Hr. Thabrani)
Ketika Umar r.a menjadi Khalifah, beliau telah mengeluarkan suatu pengumuman yang dikirim kepada setiap kepala daerah, “Saya memandang shalat sebagai kewajiban yang paling penting. Seseorang yang menjaga shalatnya dengan penuh perhatian, maka akan menjaga juga perintah-perintah yang lain dalam agama islam, tetapi jika kalian meninggalkan shalat maka dengan mudah kalian akan meninggalkan ajaran-ajaran yang lainnya.”
Hadits Rasulullah dan pengumuman Khalifah Umar al faruq r.a di atas dikuatkan oleh hadits yang berbunyi, 'Syetan takut pada seorang muslim selama menjaga shalat dan menjaganya dengan sempurna, tetapi apabila dia melalaikan shalatnya, maka syetan akan datang untuk menyesatkan, setelah itu mereka akan mudah digoda untuk melakukan dosa-dosa besar dan berat.” Inilah maksud firman Allah swt yang berbunyi : “ Bacalah al Quran yang telah diwahyukan kepadamu! Dirikanlah shalat Sesungguhnya shalat itu menghalangi perbuatan keji dan mungkar (Qs.al Ankabut ayat 45)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar